Minggu, 13 November 2011

Perkembangan Biodiesel dan Prospeknya di Indonesia, ditinjau dari Aspek Ekonomis dan Karakteristik nya

Pendahuluan
                Terbatasnya sumber daya dan cadangan minyak serta kemampuan kilang untuk mengeksplorasi minyak menyebabkan sampai saat ini dan di prediksi hingga nanti sumber energi Indonesia masih akan tergantung dengan penyediaan minyak. Saat ini pun lebih dari 50 % pangsa minyak menjadi andalan bagi pemenuhan energi. Selain itu pula ketergantungan terhadap sumber fosil turut menjadi problematika dalam pemenuhan kebutuhan energi nasional. Jika di akumulasikan sekitar 95 % ketergantungan terhadap sumber energi fosil menjadi pilihan di negeri ini.
                Pertumbuhan PDB yang positif turut menentukan tumbuhnya peningkatan konsumsi di semua sektor, khususnya transportasi. Kondisi keterbatasan BBM tidak diantipasi dengan pengurangan pembelian  kendaraan bermotor serta upaya untuk mengurangi subsidi terhadap bahan bakar tersebut. Subsidi yang diberikan oleh pemerintah di penyediiaan BBM meliputi subsidi terhadap bensin, ADO (solar)  termasuk subsidi bahan bakar alternatif Biodiesel dan bioethanol.
                Pemerintah telah mengeluarkan mandatori dan Perpres (Perpres No 5 tahun 2006) untuk mewujudkan optimalisasi penyediaan bahan bakar dengan berbasis energi baru terbarukan (EBT) dimana diantaranya meningkatkan penggunaan bahan bakar energi nabati  (biofuel)  yaitu biodiesel dan bioethanol.  Denyut pertumbuhan bahan bakar nabati ini tergantung dengan harga bahan baku sumber daya nabati yang dimanfaatkan untuk memproduksi biofuel. Umumnya orientasi pemanfaatan sumber bahan baku nabati masih tergantung dengan komoditas tanaman yang juga dimanfaatkan sebagai suplai pangan. Kondisi ini turut dipengaruhi juga dengan stabilitas harga minyak dunia terhadap harga jual bahan bakar, dimana kondisi tidak stabil ditemui terhadap harga jual minyak sehingga turut menentukan apakah akan beralih dengan melakukan eksploitasi permanen terhadap bahan bakar nabati, eksploitasi bertahap, ataukah tetap melakukan pemanfaatan bahan bakar minyak.
Tabel 1. Kandungan minyak atsiri dari berbagai tanaman di Indonesia
Nama Tanaman
Sumber Minyak
Kadar Minyak (% b-kr)
P/NP
Jarak Pagar
Inti Biji
40-60
NP
Kelapa Sawit
Sabut +
45-70 +
P

daging buah
46 - 54

Kapok/Randu
Biji
24 - 40
NP
Kelapa
daging buah
60 -70
P
Kecipir
Biji
15 - 20
P
Kelor
Biji
30 - 49
P
Kusambi
daging biji
55 - 70
NP
Nimba
daging biji
40 - 50
NP
Saga Utan
Inti Biji
14 - 28
P
Akar Kepayang
Biji
Setara 65
P
Gatep Pait
Biji
Setara 65
NP
Kepoh
Inti Biji
45 - 55
NP
Ketiau
Inti Biji
50 - 57
P
Nyamplung
Inti Biji
40 - 73
NP
Randu Alas
Biji
18 - 26
NP
Seminai
Inti Biji
50 - 57
P
Siur
Biji
35 - 40
P
Tengkawang terindak
Inti Biji
45 - 70
P
Bidaro
Inti Biji
49 - 61
NP
Bintaro
Biji
43 - 64
NP
Bulangan
Biji
-
NP
Cerakin
Inti Biji
50 - 60
NP
Kampis
Biji
-
NP
Kemiri Cina
Inti Biji
-
NP
Nagasari
Biji
35 - 50
NP
Sirsak
Inti Biji
20 - 30
NP
Srikaya
Biji
15 - 20
NP

                Dari Tabel diatas terlihat bahwa potensi pemanfaatan bahan bakar nabati di Indonesia sebenarnya sangat potensial khususnya untuk biodiesel. Tercatat pemanfaatan biodiesel hanya mencapai 16 % dari total penyediaan CPO untuk domestik setelah diekspor . Sedangkan untuk totalitas produksi kelapa sawit di tahun tersebut dapat diperkirakan penyediaan biodiesel mencapai 2747,2581 ribu ton CPO atau sebesar 22,5 %  dari penyediaan CPO total sebesar 20202,800 ribu ton di tahun tersebut.
Tabel 2. Penyediaan  kelapa sawit  dan potensi Biodiesel ditahun 2009 (ribu ton)
Provinsi
Kelapa Sawit 2009
Potensi Biodiesel 2009
Aceh
671,100
87,853
Sumatera Utara
3996,500
523,178
Sumatera Barat
1016,800
133,108
Riau
4956,500
648,851
Kepulauan Riau
10,800
1,414
Jambi
1669,600
218,566
Sumatera Selatan
1986,600
260,064
Kepulauan Bangka Belitung
417,900
54,707
Bengkulu
675,400
88,416
Lampung
400,500
52,429
DKI Jakarta
0,000
0,000
Jawa Barat
12,900
1,689
Banten
28,400
3,718
Jawa Tengah
0,000
0,000
DI Yogyakarta
0,000
0,000
Jawa Timur
0,000
0,000
Bali
0,000
0,000
Nusa Tenggara Barat
0,000
0,000
Nusa Tenggara Timur
0,000
0,000
Kalimantan Barat
1111,700
145,532
Kalimantan Tengah
1351,700
176,950
Kalimantan Selatan
889,600
116,457
Kalimantan Timur
354,700
46,433
Sulawesi Utara
0,000
0,000
Gorontalo
0,000
0,000
Sulawesi Tengah
140,400
18,380
Sulawesi Selatan
20,000
2,618
Sulawesi Barat
379,800
49,719
Sulawesi Tenggara
0,000
0,000
Maluku
0,000
0,000
Maluku Utara
0,000
0,000
Papua
53,500
7,004
Papua Barat
58,400
7,645
Jumlah
20202,800
2644,730
Sumber : Statistik Indonesia BPS 2010,
                Dari tabel 1, Tersebut, terlihat bahwa produksi utama kelapa sawit sekaligus provinsi yang paling berpotensi untuk memproduksi biodiesel yaitu provinsi Riau, Sumatera utara, Jambi, Sumatera Selatan dan  juga terdapat di provinsi Kalimantan Tengah,
                Proyeksi pemanfaatan biodiesel sebagai pengganti solar secara total belum bisa direalisasikan hingga tahun 2025, Namun, pemerintah telah mencanangkan pemanfaatan biodiesel melalui bauran  (mix) biodiesel 5 % dan dinaikkan bertahap hingga 20 % campuran dengan solar, Secara fisik dan kimia Biodiesel memiliki karakteristik yang hampir sama dengan solar, sehingga secara aktual dapat diaplikasikan sebagai bahan bakar,
Tabel 3, Perbandingan antara karakteristik solar dan biodiesel
Parameter
Minyak Solar
Biodiesel
Massa jenis (kg/m3)
820 - 870 (15oC)
850 - 890 (40oC)
Viskositas kinematik (40 C; mm2/s (cSt))
1,6 - 5,8
2,3 - 6,0
Angka Setana
min, 45
min, 51
Titik Nyala (mangkok tertutup; oC)
min,60
min,100
Titik kabut (oC)
-
maks, 18
Titik Tuang (oC)
maks, 18
-
Korosi lempeng tembaga (3 jam pada 50oC)
maks, No 1
maks, No 3
Residu karbon (% massa)


         - dalam contoh asli, atau
maks, 0,1
maks, 0,05
         - dalam 10 % ampas destilasi

maks, 0,30
Air dalam sedimen (% volume)
maks, 0,05
maks, 0,05
Temperatur distilasi 90 % (oC)
-
maks, 360
Temperatur distilasi 90 % (oC)
maks, 370
-
Abu tersulfatkan (% massa)
maks, 0,01
maks, 0,02
Belerang (ppm (mg/kg))
maks, 5000
maks, 100
Fosfor (ppm (mg/kg))
-
maks, 10
Angka Asam (mg-KOH/g)
maks, 0,6
maks, 0,8
Gliserol bebas (% massa)
-
maks, 0,02
Gliserol total (% masssa)
-
maks, 0,24
Kadar ester alkil (% massa)
-
min, 96,5
Angka Iodium (% massa)
-
maks, 115
Uji Halphen
-
Negatif
Sumber :  Minyak Solar, www,pertamina,com (akses juni 2006)
                  SNI Biodiesel No,04-7182-2006 yang mengacu pada ASTM D 6175 & EN 14214

                Besarnya konsumsi solar bersubsidi terus menggeorogoti APBN negara  yang harus dikeluarkan tiap tahunnya, Subsidi BBM terus meningkat seiring dengan peningkatan harga minyak dunia dan peningkatan konsumsi bahan bakar minyak yang ditandai semakin meningkatnya jumlah kendaraa di Indonesia setiap tahunnya , Tercatat hingga tahun 2009  besarnya subsidi solar yang dikeluarkan pemerintah mencapai angka 45 triliun rupiah, Belum lagi usaha pemenuhan subsidi Bensin, LPG dan Listrik yang secara totalitas ditaksir kebutuhan subsidi Indonesia mencapai 160 triliun atau sekitar 20 %  dari APBN yang dialokasikan pemerintah,

Tabel 4, Besar subsidi dan harga solar, tahun 2005 - 2009
Tahun
2005
2006
2007
2008
2009
Subsidi BBM
Triliun Rupiah
95,6
64,2
83,8
139,1
45,0
       Solar
Rupiah /liter
2683
4300
4300
5025
4650
Sumber : Departemen Keuangan RI
                Dengan kondisi tersebut diharapkan biodiesel dapat menjadi subsitusi bagi penyediaan solar sehingga dapat mengurangi beban hutang negara, Selain itu seperti yang dijelaskan diatas Biodiesel memiliki banyak keunggulan yang memberikan banyak manfaat baik terhadap kualitas kendaraan maupun  kuantitas pemakaian yang lebih efektif serta lebih ramah lingkungan dibandingkan solar,

Hasil Pembahasan
Kaitan antara pemilihan pangsa biodiesel terhadap pangan dan sumber bahan bakar
                Perkembangan Biodiesel saat ini terkendala dengan kemampuan harga jual CPO untuk sumber pangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual CPO untuk dijadikan biodiesel, Sebagai perbandingan harga jual minyak goreng jelantah saat ini mencapai Rp, 10,000/ kg sedangkan CPO untuk biodiesel dijual dengan harga  $ 300 - $ 400 per ton atau sekitar Rp, 2700- Rp, 3600/ kg, dan itupun masih disubsidi oleh pemerintah, Melihat kenyataan ini memang wajar kalau pertumbuhan biodiesel relatif lambat,
                Berdasarkan data kajian yang dilakukan oleh Tim BRDST BPPT dan mengacu pada kebijakan yang telah dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan Departemen Pertanian didapatkan beberapa data mengenai potensi pemanfaatan jenis tanaman tertentu beserta jumlah biodiesel yang didapatkan diantaranya :
Tabel 4, Proyeksi pengembangan sumber tanaman penghasil  biodiesel
Jenis Tanaman
Produktifitas (Ton/ha/thn)
Produktifitas Biodiesel (Ltr/ha/thn)
Luas Tanaman (ha)
Kelapa Sawit
20-25
3600
6780000
Kelapa
1,1-2,5
200-500
3800000
Jarak Pagar
2,5-5
500-1000
39000
Nyamplung
n/a
n/a
n/a
Sumber : Dinas Perkebunan Departemen Pertanian
                Dari tabel 4 tersebut penghasil dominan biodiesel akan cenderung berkompetisi dengan pangan, Jika dilihat dalam tabel 2, potensi Biodiesel yang diperoleh mampu mencapai sekitar 131 kg dari tiap ton kelapa sawit yang diproleh dengan perhitungan :

Diketahui             :
                25 ton kelapa sawit/ha/thn                         = 3600 liter/ha/thn
Ditanya                : Jumlah biodiesel/thn……… (kg/ha/thn) ?
Penyelesaian     :
                25 ton kelapa sawit/ha/thn                         = 3600 liter/ha/thn
                25 ton kelapa sawit/ha/thn                         = (3600/1,1) kg/ha/thn
                25 ton kelapa sawit/ha/thn                         = 3272 kg/ha/thn
                1 ton kelapa sawit/ha/thn                           = 130,909 kg Biodiesel /ha/thn

Dari tabel 1 dikatakan pula kandungan daging buah yang digunakan dalam pemanfaatan kelapa sawit mampu menghasilkan minyak 54 % (CPO) sehingga dapat dihitung :
                1 ton kelapa sawit/ha/thn                            = 54 % CPO
                1 ton kelapa sawit/ha/thn                           = 540 kg CPO /ha/thn

                Artinya disimpulkan bahwa persentase CPO yang dihasilkan dari tiap ton CPO mampu mencapai 54 % dan dari CPO yang dihasilkan jumlah biodiesel yang diperoleh mencapai 24 % atau sebesar 13 % dari jumlah perton kelapa sawit yang dihasilkan.
                Melihat perbandingan ini sangat wajar pula disamping dengan harga yang tidak mampu bersaing, kondisi ini menunjukkan bahwa nilai ambundance CPO justru lebih tinggi jika dibandingkan dengan Biodiesel terhadap bahan baku kelapa sawit, dimana jika kelapa sawit dimanfaatkan sebagai sumber pangan akan lebih menguntungkan jika digunakan sebagai sumber pembuatan biodiesel.

Kaitan Antara Biodiesel terhadap penyediaan transportasi bahan bakar solar.
                Konsumsi solar hingga tahun 2009 terus meningkat dan diproyeksikan akan terus meningkat. Berdasarkan data suplai olahan konsumsi energi Outlook BPPT  diketahui jumlah konsumsi energi untuk biodiesel di tahun 2009 mencapai 1,49 juta SBM atau realisasi bauran 2 % dari pemakaian Biosolar (B2) sebesar 74,26 juta SBM, sedangkan konsumsi solar  98 % ditahun tersebut mencapai 73,52 juta SBM.
                Kondisi ini menunjukkan bahwa pemanfaatan biodiesel masih sangat kecil sekali jika dibandingkan dengan konsumsi solar. Padahal dengan optimalisasi pengembangan biodiesel maka upaya subsitusi bahan bakar alternatif dapat dipercepat dan pengeluaran subsidi  dapat dilakukan seminimum mungkin.
                Indonesia memiliki area perkebunan kelapa sawit yang sangat melimpah, tercatat di tahun 2009 produksi kelapa sawit mencapai 20202,800 ribu ton kemudian yang diolah menjadi  CPO sebesar 10909,512 ribu ton namun yang baru dimanfaatkan sebagai biodiesel mencapai 2644,730 ribu ton. Sementara nilai ekspor CPO keluar mencapai 16838,100 ribu ton. Kondisi ini menunjukkan dari hasil kalkulasi ternyata nilai CPO yang diekspor lebih besar dari yang diproduksi. Dapat disimpulkan bahwa ekspor Indonesia tidak hanya tergantung pada produksi CPO melalui perkebunan besar akan tetapi juga bergantung pada perkebunan rakyat yang menyediakan suplai kelapa sawit tambahan untuk meningkatkan produktivitas industri PKS.
Tabel 5. Volume ekspor CPO tahun 2009 (ribu ton)
Negara
Berat
China
2654.4
Singapura
659.9
Malaysia
1195.7
India
5496.3
Pakistan
214.5
Bangladesh
800.5
Sri Lanka
5.8
Mesir
497.2
Belanda
1364.3
Jerman
461.5
Lainnya
3488
Total
16838.1
Sumber : Statistik Indonesia 2010, BPS
                 Jika diinginkan upaya pencapaian bauran biosolar 20 hingga tahun 2025 maka tentunya diperlukan upaya optimalisasi produksi melalui penambahan luas area penanaman kelapa sawit begitupun pula peningkatan industri manufaktur (PKS) yang mampu mencukupi kebutuhan CPO untuk domestik maupun ekspor. Denyut pertumbuhan CPO saat ini menyebabkan masih minimnya investor untuk tertarik berinvestasi di bidang agrobisnis kelapa sawit ini, sehingga perlu adanya regulasi yang benar-benar mampu direalisasikan serta berpihak pada kesehjateraan rakyat seutuhnya tanpa adanya motif kecurangan yang lain.

Referensi
Pusdatin ESDM. 2010. Handbook Economy & Energy. ESDM; Jakarta
BPS. 2010. Statistik Indonesia 2010. BPS; Jakarta
B2TE. 2006. Pembuatan Pabrik Industri Biodiesel Skala Kecil. BPPT; Jakarta
Perencanaan Energi-PTPSE. 2010. Outlook Energy Indonesia 2010. BPPT; Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar