Senin, 07 November 2011

Transportasi Gas yang kompetitif bagi penyediaan energi Indonesia

Gas bumi memiliki peranan penting bagi penyediaan bahan bakar dan bahan baku dalam berbagai aktivitas produksi. Dengan kandungan gas metan sebagai komposisi utamanya, gas bumi memiliki nilai kalori yang tinggi melebihi batubara, minyak mentah, arang serta kayu serta hampir menyamai nilai kalori yang  dimiliki oleh bensin. Memiliki densitas yang rendah, gas bumi akan memerlukan volume yang besar baik dalam penyimpanan maupun pengangkutan. Ditinjau dari pengangkutan gas bumi dapat didistribusikan melalui pemipaan dan pengapalan. Pemilihan metode pengangkutan dan pendistribusian yang tepat akan menentukan tingkat efisiensi dan tingkat ekonomi penjualan gas bumi kepada konsumen.
Tercatat proyeksi penyediaan energi hingga tahun 2020 masih akan sangat bergantung pada penyediaan energi fosil yakni minyak bumi, batubara dan gas. Energi primer berupa gas dan batubara berpotensial untuk digunakan sebagai bahan bakar dengan dilakukan purifikasi dan recovery untuk mendapatkan kualitas bahan bakar yang maksimal, Proses yang berkembang hingga saat ini yaitu melakukan proses gasifikas  pada batubara serta reformasi syngas menghasilkan senyawa utama berupa Hidrogen, Nantinya prospek pemanfaatan Hidrogen akan lebih luas jika diperuntukkan sebagai bahan baku pembuatan Metanol, DME, Urea, serta digunakan dibeberapa produksi kilang dan industri baik sebagai oksidator, reduktor  dan reaksi cracking,
Penggunaan bahan bakar fosil baik batubara dan gas kian meningkat seiring dengan menipisnya cadangan minyak serta menurunnya eksplorasi minyak Indonesia, Walaupun diprediksi cadangan batubara dan gas masih lebih lama tersedia, namun kenyataannya Indonesia terancam akan kekurangan penyediaan gas khususnya untuk pembangkit berbahan bakar gas, Salah satu upaya yang ditempuh diantaranya dengan merencanakan pendirian FSRU (Floating Storage Regasification Unit) dibeberapa wilayah jawa (Cilegon, Tambak Lorok, Gresik), dan Sumatera (Asahan) yang akan rampung di tahun 2011 ini, Selain itu pemerintah juga merencanakan akan mendirikan FSRU di wilayah Kalimantan (Balikpapan, Samarinda) serta di wilayah Bali dan Papua,
Kontradiktif memang melihat kenyataan Indonesia pernah memiliki Industri LNG terbesar di dunia (PT, Badak LNG), namun justru mengimpor LNG dari luar, Jika dilihat dari sumber daya gas yang tersedia, Indonesia memiliki cadangan gas tertinggi di area Natuna (51,46 TSCF) , Tangguh (24,32 TSCF), Bontang (19,76 TSCF), Sumatera Selatan (16,11 TSCF), Sumatera tengah (10,35 TSCF), Donggi Senoro (2,80 TSCF) dan Sangatta (TSCF) serta dibeberapa wilayah Indonesia lainnya, Akan tetapi kenyataannya hingga saat ini wilayah eksplorasi dan produksi LNG hanya terdapat di Bontang (Kalimantan), Arun (Aceh) dan Tangguh (Papua), ditambah lagi dengan proyek pembangunan LNG Donggi Senoro (Sulawesi) yang direncanakan akan selesai tahun 2015 setelah 7 tahun kontruksi (Sumber : Statistik Gas 2010 ESDM), Padahal dibeberapa wilayah sumatera justru masih sangat melimpah sumber daya nya dan jauh diatas nilai sumber daya LNG yang tengah di eksplorasi hingga saat ini, namun terkait dari pertimbangan ekonomis biaya investasi kontruksi menjadi lebih mahal dibandingkan dengan biaya impor ditambah lagi dengan biaya distribusi yang tinggi (sekitar 25 % dari total capital cost) dan loading cost  sebesar 25 %,
Sampai saat ini Indonesia termasuk negara   yang memiliki produksi gas tertinggi didunia (TCF), Beberapa negara pemproduksi gas terbesar di dunia diantaranya :
1.    Russian Federation   21,03   
2.    USA                                                19,05   
3.    Canada                                          6,63   
4.    United Kingdom                        3,61   
5.    Algeria                                             2,80   
6.    Netherlands                                  2,66   
7.    Iran                                                   2,65
8.    Indonesia                                    2,48   

Sedangkan negara-negara yang memiliki cadangan gas terbesar didunia diantaranya ( TCF)
1.    Russian Federation               1748
2.    USA                                             1475
3.    Iran                                                742
4.    Qatar                                          245
5.    Abu Dhabi                                  188
6.    Saudi Arabia                               185
7.    Venezuela                                                 140
8.    Algeria                                         128
9.    Turkmenistan                           100
10.  Kazakhstan                                   83
11.  Canada                                        67
12.  Uzbekistan                                   60

Secara teoritis distribusi gas dapat dilakukan dengan menggunakan piping dan pengapalan. Distribusi piping umumnya diprioritaskan dilakukan diwilayah onshore dimana jika diterapkan diwilayah offshore akan lebih sulit baik dari segi biaya maupun maintenance. Rencana impor melalui FSRU yang akan diterapkan dipertimbangkan berdasarkan jarak tempuh distribusi serta menjaga kondisi yang tepat sehingga gas alam yang diimporkan tepat sasaran sesuai dengan kuota jual beli yang telah ditetapkan.
Distribusi pemipaan umumnya dilakukan untuk rentang jarak tempuh dibawah 1000 mile. sedangkan untuk LNG dan CNG dilakukan untuk jarak tempuh > 1000 mile. Sumber gas alam yang akan diimpor di Indonesia diimpor dalam bentuk LNG dengan pertimbangan jarak tempuh dan kondisi yang sesuai. Dari segi keekonomian dan penentuan harga jual gas. tahapan  distribusi LNG akan ekonomis jika dilakukan pada jarak tempuh > 5000 mile. dengan kondisi operasi pengapalan yang dijaga pada temperatur -260oF dan tekanan atmosferik. Sedangkan untuk CNG akan lebih ekonomis  jika dilakukan pada jarak tempuh < 2500 mile dengan kondisi temperatur -40oF dan tekanan 1500 – 2500 psi. Perbandingan harga distribusi gas melalui LPG dan CNG ditampilkan dalam tabel dibawah ini.
Tabel 1. Perbandingan harga gas terhadap jarak tempuh pengapalan LNG dan CNG
Jarak tempuh (miles)
LNG ($/MMBTU)
CNG (Kasus 1)
($/MMBTU)
CNG (Kasus II)
($/MMBTU)
500
3.55
2.72
2.72
1000
3.65
2.74-2.84
2.82-2.90
1500
3.75
3.06-3.10
3.15-3.26
2000
3.85
3.30-3.37
3.11-3.62
2500
3.95
3.44-3.90
3.50-3.98
3500
4.25
4.08-4.43
3.98-4.34
5000
4.65
4.84-5.49
4.70-5.43
Kasus 1 : Volume transportasi = 3.5´106 ft3
Kasus 2 : Volume transportasi = 5.0´106 ft3
Asumsi harga gas : $0.75/MMBTU. Liquifaksi: $1.0MMBTU.
Regasifikasi: $0.4/MMBTU

Pemerintah yang akan mulai mengimpor LNG di tahun 2012 nanti dari beberapa negara pengekspor gas seperti qatar dan Australia . Jarak yang ditempuh kapal kargo LNG dari negara tujuan impor serta beberapa kemungkinan impor dari negara pengekspor LNG lain disajikan dibawah ini :
Gambar 1. Jarak tempuh Qatar - Indonesia

Gambar 2. Jarak tempuh Australia- Indonesia
Sumber : www.distancefromto.net

Beberapa referensi negara lain yang berkemungkinan menjadi negara sumber impor LNG.
Tabel 2. Jarak tempuh negara pengimpor LNG terhadap Indonesia
Rute Impor LNG
Jarak Tempuh (mile)
Keterangan
Qatar - Indonesia
4559.76
Prioritas LNG
Australia – Indonesia
2876.16
Prioritas LPG
Rusia – Indonesia
4334.22
Prioritas LNG
USA – Indonesia
9307.25
Prioritas LNG
Kanada - Indonesia
8016.16
Prioritas LNG
Inggris- Indonesia
7300.27
Prioritas LNG
Algeria- Indonesia
7603.77
Prioritas LNG
Iran - Indonesia
4544.03
Prioritas LNG
Sumber : www.distancefromto.net


Kesimpulan
keekonomian impor gas dari beberapa negara akan efektif jika dilakukan pengapalan gas dalam bentuk LNG khususnya untuk negara-negara di dari timur tengah seperti Qatar dan Iran. Sedangkan untuk wilayah Australia akan lebih ekonomis jika dilakukan distribusi impor gas dalam bentuk CNG. Pengapalan LNG dan CNG akan lebih menguntungkan jika ditunjang oleh posisi negara-negara yang mengeksop dipesisir pantai dimana pada kondisi tersebut biaya instalasi distribusi pemipaan akan minimal tanpa diperlukan distribusi gas melalui darat lagi baik melalui pemipaan ataupun pengangkutan .

Referensi

Despande, asim dan Economides, Michael J. CNG: A Competitive Technology to LNG for the Transport  of Natural Gas. USA
ESDM. 2010. Statistik Gas Bumi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar